Anda Berada Di: Home About Us Press Release

Press Release

E-mail Cetak PDF

Kiprah dan Karya Nyata YBAI

Dalam Percik-Percik Kenangan

Pada hari  Kamis tanggal 4 Juni 2009 bertempat di Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jl.Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat  diselenggarakan acara Peluncuran Buku Emas YBAI yang  diterbitkan  oleh Yayasan Bina Anak Indonesia  ( YBAI ) .Ini merupakan buku kedua yang diterbitkan dan diluncurkan  oleh YBAI  setelah buku produk perdana YBAI ”Subroto Tak Kenal Lelah ” diluncurkan pada hari Kamis tanggal 9 September 2004,di  Ball Room Hotel Dharmawangsa ,Jakarta Selatan,  bertepatan dengan meledaknya bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jl.HR.Rasuna Said,Kuningan Jakarta.

Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan  Buku Emas YBAI ini adalah untuk merekam jejak langkah dan aneka kegiatan yang telah dilakukan oleh YBAI sejak awal berdirinya September 1998 di Wina Austria hingga saat ini. Dan mengingat bahwa dalam titian perjalanannya selama sepuluh tahun ini YBAI bermitra dengan berbagai pihak, maka Buku Emas ini pun dimaksudkan sebagai informasi dan laporan  sekaligus pertanggungjawaban terhadap apa yang dikerjakan YBAI kepada para sponsor, donatur dan dermawan yang selama ini berjalan seiring sejalan dengan YBAI dalam kiprahnya di bidang pendidikan.

Kiprah Kerja Nyata Ybai

Buku Emas YBAI ini juga ditulis dengan maksud untuk memperingati Kiprah dan Karya Nyata YBAI selama satu dasa warsa ini dan sekaligus sebagai penghargaan kepada jajaran pengurus dan Pembina YBAI beserta mitra dan pendukung YBAI.

Dalam kaitannya dengan kiprah YBAI di bidang pendidikan, dalam Buku Emas YBAI ini tak kurang dari 17 Bab mengungkapkan secara gamblang aneka kegiatan dan karya nyata yang telah dilakukan oleh YBAI bersama para mitranya selama sepuluh tahun ini.

Dalam usianya yang masih muda, YBAI  telah melakukan berbagai aktifitas  terprogram, antara lain :

·         Memberikan bantuan buku-buku

         - Kepada  SDN Sukaluyu dan SDN Banjarsari di Bandung   ,1999.               

         - Kepada 500 siswa di dua SD DI Lengkong Wetan ,Tangerang, (2001)

         - Menyalurkan bantuan untuk  5 Taman Bacaan  Masyarakat di Sumatera

           dan Jawa ( 2003)

·         Mendirikan perpustakaan dan Merenovasi perpustakaan yang ada.

                    - Merenovasi  gedung perpustakaan 2 SD di Bandung,Jabar ( 1999).

   - Mendirikan bangunan perpustakaan Anak model YBAI serta buku-

     buku pegangan dan perlengkapan  alat peraga.

        - Mendirikan  2 perpustakaan di desa Dawai dan Ansus,Yapen Waropen.

·         Menyalurkan Bea Siswa kepada sejumlah siswa di sejumlah SD.

-Menyerahkan  Bea siswa untuk 125 siswa di Kabupaten Tangerang.

·         Mendirikan SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri

    - Menyalurkan bantuan untuk pengembangan dua  SLTP di Tangerang.

·         Mendeklarasikan Kampoeng Pendidikan Lengkong Mandiri ( 2003).

·         Menyalurkan Bea Siswa untuk sekolah SD, SLTP dan SLTA  se-Jabotabek

·         Menerbitkan Majalah Bilingual Tunas Nusantara sejak tahun 2002.

·         Menerbitkan dan meluncurkan buku ” Subroto Tak Kenal Lelah “  ( 2004 )

·         Mendirikan Institut Lengkong Untuk Kajian Strategis ( ILKS).

·         Mendirilkan Integrated Lengkong Training Centre ( ILTC).   

Buku Kenangan

       Tiga Bab yakni Bab 20, 21 dan 22, merupakan  tulisan hasil wawancara dengan sejumlah tokoh, apa kata mereka tentang YBAI.Juga sejumlah mantan pengurus YBAI yang pernah berbhakti di YBAI, dan kesaksian pembina dan pengurus di balik perjuangan YBAI.Semua kegiatan YBAI yang sempat terekam dalam media masa, mengisi Bab khusus dalam judul YBAI Dalam Lintasan Berita.

         Secara garis besar buku  Buku Emas Yayasan Bina Anak Indonesia adalah sebuah buku kenangan. Pembaca diajak ikut serta menguak kenangan, membongkar ingatan masa silam dan mengingat-ingat kejadian yang patut diingat dan turut menapaki titian perjalanan YBAI selama sepuluh tahun ini.

Buku ini bisa berjudul «Percik-Percik Kenangan YBAI ». Apa yang dikatakan sebagai »percik-percik kenangan», bukan sekadar basa basi untuk merendah karena memang di sana hanya ada berkas-berkas berserakan dari setiap insan yang pernah bergelut di dalamnya satu sama lain. Namun ada satu pengikat di sana yang menjadi tumpuan kami yaitu kesungguhan para pembina dan pengurusnya. Karena yang direkam adalah bernas-bernas pengalaman paling dalam yang hanya mau diungkapkan, dan juga rela dibuka, dan dalam arti tertentu, berani ditulis kembali demi suatu peristiwa besar yaitu untuk dipersembahkan kepada Yayasan Bina Anak Indonesia yang sudah berusia Sepuluh Tahun.

Semua kenangan mengandung beberapa dimensi yaitu kembali ke masa silam, dan merancang masa depan dengan refleksi, renungan, sebagai pengikat keduanya. Sepuluh tahun, sebuah kurun waktu yang belum terlalu lama, baik untuk ukuran usia seorang manusia, maupun untuk usia sebuah institusi yang bernama Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI).

Walaupun baru sepuluh tahun, namun di sini bisa disaksikan lapis demi lapis pengalaman hidup yang ditulis sejumlah insan yang terlibat dalam institusi ini. Karena pendek sebagai usia suatu institusi kelihatan bahwa apa yang dikemukakan sang pendiri dan pengurusnya 10 tahun yang lalu seperti tidak mengalami perubahan berarti bila dilihat ide dan cita-cita besar nan mulia, yang tergores di hamparan luas samudera pendidikan yang diarunginya.

Namun, kita semua tidak tahu apa jenis perubahan ke depan yang terlalu jauh, akan tetapi bisa merasakan bahwa suatu perubahan pasti terjadi. Suatu langkah awal harus diambil dan untuk mengantisipasi itu, sekumpulan kenangan tentang suatu institusi yang bernama Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI), bisa berperan, ketika apa yang ditulis di sana bisa menjadi awal baru, tindakan nyata di bidang pendidikan, baik yang berbasis di pedesaan dan di kalangan masyarakat kurang beruntung maupun pendidikan umum di Indonesia.

YBAI memang « sudah » berusia 10 tahun. Ia punya visi, misi dan cita-cita luhur dan mulia. Sudah cukup banyak hal telah dibuat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Namun masih banyak hal yang perlu terus dilakukan, dan ada yang perlu diperbaiki dan dibenahi menuju yang lebih baik. Kekurangan dan kelemahan memang masih terus bersahabat dengan manusia. Upaya perbaikan dan penyempurnaan akan terus berlangsung.

Kurun waktu sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah yayasan nirlaba  dalam mewujudkan visi ,misi dan sasaran utamanya.

Isi Buku

      Buku setebal 330 halaman ini terbagi atas beberapa bagian. Selain Sekapur Sirih dan Kata Pengantar, tercatat 10( sepuluh) Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Dubes Khusus PBB untuk MDGs di Asia Pasific,Kepala Perpustakaan Nasional RI,Gubernur Banten dan Bupati Kabupaten Tnagerang ikut memberikan sambutan dalam buku ini.

 

turut memberikan ditulis dari hasil wawancara dengan Prof.Dr.Subroto sendiri oleh jurnalis  senior Parni Hadi yang sekaligus sebagai chief editor buku ini; juga dikumpulkan dari sejumlah 60 kontributor baik berupa tulisan maupun  hasil wawancara langsung dari sahabat, teman, keluarga, serta  orang yang  kenal  dekat  dengan  Prof.Dr.Subroto, yang berasal dari berbagai kalangan seperti sejumlah besar tokoh nasional, kawan dan rekan dan orang dekat seputar keluarga beliau.

 

Kalau YBAI merasa sudah pernah berprestasi, maka yang berhasil diraih itu pun belum sebesar prestasi Pahlawan-Pahlawan Bangsa dan Pahlawan-Pahlawan Pembangunan, yang telah berhasil dalam upaya memerdekakan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia tercinta ini.

Kami akan terus belajar kepada mereka yang lebih pandai, memetik pengalaman mereka yang telah meraih sukses. YBAI tetap mengharapkan  nasehat dan petuah,tegoran dan sapaan serta siap bergandengan tangan dengan berbagai pihak,dalam semangat kemitraan positip memajukan pendidikan Anak Bangsa.

PROGRAM LIMA TAHUN KE DEPAN

1.       Mesosialisasikan penerapan model Kampoeng Pendidikan Mandiri di 12 lokasi di Indonesia .

2.       Melanjutkan Kegiatan Penerbitan :

·         Penerbitan majalah Tunas Nusantara

·         Penerbitan Jurnal ILKS

3.       Mendidikan SMK  Plus Lengkong Mandiri,mulai Tahun Ajaran 2009.

4.       Melakukan Penelitian,Penulisan dan Penerbitan Buku.

5.       Mengisi kegiatan Outbond & Training di KPM Lengkong Mandiri

6.    Menyelenggarakan pelatihan yang diselenggarakan oleh ILTC ( Integrated Lengkong Training Centre) antara lain :

·         The School of Writing,The School of English Conversation dan The School of IT dan The School of Enterpreneurship

7.       Menjalankan Microfinance dan UKM

8.       Mewujudkan Institut Lengkong Untuk Kajian Strategis ( ILKS )

 

Pada gilirannya kami patut menghaturkan berlimpah terima kasih kepada Bapak/Ibu sekalian yang telah bersedia memberikan kontribusi dan partisipasinya. Terus terang, jujur kami katakan, tanpa bantuan Bapak/Ibu, buku ini tidak akan dapat selesai. Semoga partisipasi Bapak/Ibu dicatat Allah sebagai pahala.

Akhirnya kami Tim penyusun buku Emas YBAI bisa bernapas dengan lega. Setelah melakukan perburuan yang agak melelahkan, memburu nara sumber, memburu data, informasi dan foto,memburu iklan dan sponsor serta menyusun naskah, akhirnya Buku Emas YBAI ini berhasil disajikan sebagaimana adanya.

Mempersembahkan rasa syukur atas karunia 10 tahun YBAI yang kita cintai, bukanlah sesuatu yang mudah. Oleh karena itu kami menyadari bahwa buku ini bukanlah sebuah sonata yang memikat, bukan bunga rampai yang indah dan juga bukan doa-doa yang khusyuk, melainkan sekedar sebuah simbol ungkapan dari hati yang paling dalam dari seluruh awak kapal Yayasan Bina Anak Indonesia, dalam rangka mensyukuri dan berterima kasih kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dalam rangkaian penyelenggaraan peringatan 10 Tahun Yayasan Bina Anak Indonesia yang berkiprah di dunia pendidikan.

Khalil Gibran berkata “Dalam pendidikan perkembangan pikiran setapak demi setapak melangkah dari pengalaman ilmiah menuju intelektual, melangkah lagi ke perasaan spiritual, kemudian menuju Tuhan“.

Maka segala puji dan syukur kami haturkan ke hadiratMu, ya Allah. Engkau telah menunjukkan jalan bagi kami untuk turut mengabdi pada bangsa kami melalui jalur pendidikan. Engkau jualah yang telah menuntun jejak langkah kami selama sepuluh tahun ini di jalan yang Engkau ridhoi, turut membantu masyarakat dan bangsa kami. Kami tetap mohon penyertaan dan campur tanganMu pada jalan panjang yang akan kami lalui ke depan.

Terima kasih ya Allah, Engkau beri kami kekuatan dan kesehatan sehingga kami dapat menjalankan tugas menjaga amanah yang Engkau berikan kepada kami. Semoga kami semakin memahami bahwa ”Menerima amanah itu gampang, yang sulit adalah menjaganya”.

Kehadiran buku emas pada Hari Ulang Tahun YBAI ke-10 memang merupakan salah satu ciri peringatan ulang tahun. Namun lebih penting dari itu Ulang Tahun itu diperingati berlandaskan motto YBAI yang dapat menjadi tongkat penuntun dan obor pemandu bagi seluruh jajarannya, yang akan  terus terukir abadi  yakni ”Melalui Anak Kita Selamatkan Bangsa”.

Semoga buku Emas YBAI memberi makna dan manfaat bagi kita semua. Dan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa Selalu Memberkati Kita, Amin.**

 

** (Thomas Ataladjar)

      Buku setebal 430 halaman ini selain ditulis dari hasil wawancara dengan Prof.Dr.Subroto sendiri oleh jurnalis  senior Parni Hadi yang sekaligus sebagai chief editor buku ini; juga dikumpulkan dari sejumlah 60 kontributor baik berupa tulisan maupun  hasil wawancara langsung dari sahabat, teman, keluarga, serta  orang yang  kenal  dekat  dengan  Prof.Dr.Subroto,. yang berasal dari berbagai kalangan seperti sejumlah besar tokoh nasional, kawan dan rekan dan orang dekat seputar keluarga beliau. Tim Penerbitan Buku Subroto Tak Kenal Lelah terdiri dari Dr.Rizal Sikumbang, Ir.Moh.Isori Dalimunthe, Drs.Irfan Boechari,Rismi Juliadi ST,Reny Susilowati S.Sos dan Dame Meilany Marpaung. dengan editornya Parni Hadi dan Mustofa Kamil Ridwan. Setelah melalui proses final editing di Novus Hotel & Resort-Cipanas,2-4 Juli 2004, akhirnya buku ini  dapat dicetak.

 

    Seiring dengan terbitnya buku perdana YBAI ini Bidang Penerbitan Buku YBAI terus melakukan pemelitian dan penulisan buku antara lain seri Sejarah Lokal dan buku lain yang bermanfaat dan berpengaruh terhadap kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia.** (Thomas Ataladjar)