Prof. Dr. Subroto, Mantan Menteri yang Kini Aktif di Dunia Pendidikan
Tetap Bugar Ingin Anak Bangsa Menjadi Pintar
Wajah Prof. Dr. Subroto tetap ceria meskipun rambutnya sudah memutih. Semangat Subroto di dunia pendidikan tidak pernah pupus. Harapan mencetak anak bangsa berkualitas juga terus berkobar dalam dadanya.
YERI VLORIDA, Serpong
Pria kelahiran Sewu, Solo, Jawa Tengah 1923 itu, memang tak muda lagi. Dia tak setegar dulu, ketika masih menjadi men-teri pertambangan di era Orde Baru. Jalannya pun harus diban-tu tongkat. Kesibukan Subroto, saat ini aktif di dunia pendidikan.
Di dunia pendidikan, tampak tidak bisa dilepaskan dalam di-rinya. Pasca pensiun dari men-teri, dia pernah menduduki jabat-an penting yakni posisi Rektor Universitas Pancasila 1996-2004 silam. Sekarang pun Su-broto, masih menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI).
Yayasan itulah yang mendiri-kan sekolah di Kampoeng Pendidikan dengan nama SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri (SMP+BLM). Lokasi sekolahnya berada di Kelu-rahan Lengkong Wetan, Ser-pong. Persisnya berada di ping-giran perumahan BSD City.
Meskipun tidak aktif datang setiap hari ke sekolah, Subroto tetap menjalin keakraban dengan murid. Buktinya, dalam setiap even peringatan hari besar na-sional, sekolah itu sering meng-gelar even. Nah, pada momen itulah Subroto berkunjung ke se-kolah untuk memotivasi siswa.
”Di sekolah ini kami sering berdialog dengan mendatangi setiap ruang kelas. Sehingga bisa lebih dekat dan akrab dengan siswa. Tak jarang juga memberikan ceramah ilmiah tentang pendidikan dan pengetahuan umum bagi guru dan siswa,” tukasnya.
Awal berdiri sekolah yang hanya 15 siswa dan 4 guru itu, mulai berkembang lebih maju. Saat ini tercatat 182 lebih siswa yang menjadi anak didik di sekolah itu. Dari jumlah murid, 70 persen siswa berasal dari warga tidak mampu yang menetap di perkampungan itu.
Meskipun dihuni sebagian besar siswa tidak mampu, upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus dilakukan. Misalnya membangun gedung sekolah 3 lantai.
Penambahan fasilitas sekolah menurut dia, dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta. Contohnya dengan menggalang dana ban-tuan Corporate Social Respon-sibility (CSR) perusahaan seperti Pertamina yang membantu Rp 520 juta. Masih terdapat pula bantuan puluhan juta dari PT Freeport Indonesia serta donatur dari perorangan. Hasilnya, menggalang dana bantuan pun cukup membantu pembangunan sekolah. Ratusan juta dana yang terkumpul lalu digunakan untuk pembangunan dan sarana sekolah.
Kesibukan lain yang dilaku-kan Subroto, yakni menuang-kan ide pikirannya dalam tulisan buku Subroto Tak Kenal Lelah. Buku itu diterbitkan YBAI pada 2004 silam.
Dalam buku itu, dia mengi-nginkan anak-anak gemar mem-baca, menghitung, menulis dan musik. Konsep dengan metode
YERI VLORIDA/INDOPOS
Subroto
4M yang kini menjadi landasan siswa SMP Plus. “Siswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan belajar di ruang kelas saja. Namun juga mampu mengasah
kreatifitas, misalnya melalui seni, olahraga serta prestasi akademik,” jelasnya semangat.
Konsep tersebut yang mem-bedakan dengan sekolah lain-nya. Ke depan YBAI akan me-ngembangkan sayapnya dengan mendirikan SMA untuk menam-pung lulusan SMP Plus. Renca-nanya bakal dibangun tahun ini. Sedangkan rencana selanjutnya mendirikan Institut Lengkong.
Sementara itu, semasa Soeharto berkuasa, Subroto menjabat beberapa posisi penting di kabinet pembangu-nan. Dari tahun 1971-1973 dia di percaya menjabat Menteri Pembangunan I. Pada periode 1973-1978 menjadi Menteri Koperasi, Transmigrasi dan Tenaga Kerja. Dalam periode 1978 hingga 1988 mengemban tugas sebagai Menteri Energi dan Pertambangan. (*)
http: //www.indopos.co.id email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


